Minggu, 27 April 2008

Akademi Fantasi


Akademi fantasi,
Akademi Mimpi

mementingkan tontonanya. hinga kemudian penggemar mulai dikelola secara kualitatif yang ditunjukan dengan penuhnya penonton di studio.
Tahapan berikutnya, pengelolaan penggemar pada evolusi inilah yang kini marak dilakukan industri televisi. Sebut saja keterlibatan pemisa dalam menentukan bintang melalui sms. Pada Grand Final AFI pertaman misalnya, ternyata sms masukmencpai kurang lebih 400.000 sms. Angka fantastis yang menunjukkan besarnya antusiasme pemirsa terhadap acara realiti show tersebut.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengelolahan penggemar dengan partisipasi yang produktif tersebut, mampu mempengaruhi emosi pemirsa sehingga menambvah dramatis suasana ajang pemilihan bintang yang merupakan program lisensi dari televisi La Academia Mexico. Tak hanya itu jarak yang dahulu terbentang antara bintang televisi dan pemirsapun menjadi pudar, karena adalah lelakon. Meminjam istilah Marshal Mc Lohan, bagai pesawat angkasa bumi yang tidak punya lagi penumpang, semua adlalh kruw. Fakta di atas seakan menggambarkan tanggapan binung masyarakat "terutama remaja yang membutuhkan peneguhan identitas " atas tercerai berainya dunia sosial. Manakalah pranata desa dengan rasa kebersamaan luluh lentak diterjang industri, dan dunia kota yang tercipta ternyata tak memberi ruang bersama baru.
Barang kali pula inilah konsentrasi dari kegagapan masyarakat kita berhadapan dengan praktek culture industry. 59 tahun Indonesia merdeka, ternyata berderet pekerjaan rumah tanga bangsa ini menuju bangsa yang baik. Kita kutuh generasi yang mumpuni, namung bviula remaja kita masih terus bemimpi jadi bintang hingga mengasosiasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka secara perlahan-lahan mereka akan tercerabut dari relitas. Karena disegala mimpinya ada mimpi lain milik anak-anak tak mampu yang ingin mengecap mimpi bukan untuk menjadi bintang. Mimpi mereka sederhana saja merasakan nikmatnya duduk dibangku sekolah untuk memperoleh pendidikan. Kenyataan di atas perlu mendapat perhatian, jikalau tidak maka benar apa yang dikutip Bung Hatta dari penyair Jerman, Schiller : " Suatu abad besar telah lahir, namun ia menemukan generasi yang kerdil." G

gerbang / edisi 4 th.IV Oktober 2004


























Tidak ada komentar: